Minggu, 22 Januari 2012

Paradigma ?!!! Hari demi hari terus berjalan Pergantian waktupun tidak dapat dielakan Perubahan adalah sebuah realitas yang harus dihadapi Sebagai konsekwensi logis atas akhir dari setiaplangkah Paradigma hidup merupakan acuan dalam melangkah Sebagai barometer dalam menjalani hidup Menuju sebuah wujud misteri ‘ Cita-cita’ Perenungkan kembali tentang Paradigma hidup Tentang cita-cita yang tergantung di angkasa Katakanlah kamu bisa untuk meraihnya Kamu bisa untuk menjalaninya Gapailah semuanya ‘ Sungguh beruntunglah orang yang slalu mensucikan diri (Kembali kepada fitrah dan kesucian )’

METFISIK (Merambah kegaiban dunia lain) Alam ini seolah tidak nyata Seakan-akan dunia bayangan Tetapi dunia ini punya dimensi Dimensi lain yang imateri Hanya rasa iman yang bisa menggapainya Entahlah, memang alam ini serba aneh Pengamanannya sungguh ekslusive Penjagaan yang ekstra ketat Dengan benteng yang begitu kokoh Seakan beruratkan besi bertulangkan baja Begitu susah menembus dunia ini Hanya dengan akses yang tepat Dan prasarat pasport yang lengkap Barulah bisa memasukinya dengan aman Ketika ada yang mencoba memaksa Hanya mengakibatkan luka-luka Seandainya memang bisa Hanya mengakibatkan sengsara Merantau di dunia metafisik Tanpa arah dan tujuan yang pasti Kehancuran buat si pemaksa Siksa menjelma menggerogoti hidupnya Hanya Tuhan-lah yang dapat menyembuhkannya Andai kesabaran menghinggapi kehidupannya.

Selasa, 17 Januari 2012

GUNUNG TANGGAMUS Gunung Tanggamus di Kabupaten Tanggamus memang unik dan memiliki tantangan tersendiri.Menuju lokasi itu saja sudah punya cerita khusus, apalagi jalur pendakian ke tempat peristirahatan pertama hingga puncak. Dari kejauhan, gunung setinggi 2.100 meter itu seolah menyimpan misteri. Kabut tebal bak pernah berhenti menutupi puncaknya. Tempat itu paling mudah dicapai dari Kota Bandar Lampung melewati kota Pringsewu, Kabupaten Tanggamus. Setelah menempuh jarak 90 kilometer melalui jalan berkelok dan naik turun, perjalanan selama dua jam berakhir di Desa Gisting. Dari pertigaan Pasar Gisting, pengunjung masih harus menempuh jarak sekitar lima kilometer untuk bisa sampai ke titik awal pendakian, tepatnya di Desa Tanggamus. Di rumah Pak Kidi,, salah satu penduduk, yang sudah biasa disinggahi para pendaki, kami mampir. Di rumah itu seluruh perbekalan, peralatan pendakian dan kemah, serta perlengkapan lainnya dicek ulang. Jalur pendakian : bandar lampung (dari terminal rajabasa-naik bus jurusan kotaagung), turun di desa gisting atas (pasar) lalu dilanjutkan dengan ojek atau angkutan umum lainnya ke desa lanbau (kaki gunung tanggamus)...selamat mendaki (info; di jalur pendakian banyak sekali jalur lain yang digunakan para penjerat burung yang menyusahkan dalam menentukan jalur menuju puncak) ini ada catper dari kawan yang sudah mendaki gunung tanggamus; Satu jam kemudian, persiapan selesai. Tepat pukul 14.30 pendakian dimulai. Mulai dari Desa Tanggamus ke tempat peristirahatan pertama atau Base Camp Sonokeling terbentang jarak sejauh lebih kurang lima kilometer. Jalur pendakian pendek itu terjal, bahkan diselingi dua tanjakan yang berat. Kejutan perjalanan awal dibayar dengan hamparan perkebunan sayur yang luar biasa indah. Sejauh mata memandang, perkebunan kol, tomat, cabai, dan terung mendominasi. Warna hijau, merah, ungu, dan coklat tanah menyegarkan mata. Yang menyenangkan, pendaki juga bisa melihat bulir-bulir biji kopi robusta yang tumbuh menghijau ditingkahi suara berbagai jenis burung. Sayang, tanaman kebun yang indah itu tumbuh di dalam kawasan hutan lindung. Empat jam Pagi yang cerah menghidupkan suasana di tempat peristirahatan pertama dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan air laut itu. Sambil memandang ke puncak yang diselimuti kabut, bagi pendaki profesional, puncak bisa ditempuh dalam tempo tak kurang dari empat jam. Ada beberapa jalur menuju puncak, dan pilihan jatuh ke jalur yang biasa dilalui pendaki umum, jalur yang langsung terjal naik dengan kemiringan yang hampir sama dengan perjalanan pertama. Bahkan di beberapa tempat ada yang memiliki kemiringan ekstrem. Menuju puncak, vegetasi seperti semak, hutan sonokeling, dan kebun penduduk mulai ditinggalkan dan beralih ke vegetasi khas hutan hujan tropis. Di sepanjang jalur pendakian, pohon-pohon khas hutan hujan tropis, seperti meranti, kruing, balau, rotan, dan pakis hutan tumbuh rapat. Kanopi yang terbentuk menyejukkan udara di sekitar. Di kejauhan, monyet dan siamang saling bersahutan. Saking populernya jalur itu, di sepanjang jalur banyak ditemui tanda seperti potongan tali rafia yang diikatkan pada batang pohon atau tanaman. Asep menerangkan, mungkin karena pengaruh angin yang kencang, gesekan antarbatang yang tumbuh rapat begitu kuat, banyakpohon bertumbangan. Pelan tetapi pasti, pendakian terasa berat juga. Melewati suatu kawasan hutan yang alas hutannya dipenuhi pacet. Mendekati ketinggian 1.700 meter di atas permukaan air laut (dpl), batang-batang pohon mulaiterselimuti lumut. Menjelang hutan lumut ada tempat peristirahatan. Di sana bisa melepas lelah sejenak dan mencari air minum. Air dingin dari mata air menyegarkan kerongkongan yang kehausan. Mendekati puncak, kelembaban semakin tinggi. Hawa dingin makin menusuk. Menjelang tengah hari kabut perlahan-lahan turun. Di tengah perjalanan menuju puncak itu, "Kondisi sepuluh tahun yang lalu betul-betul berbeda dengan sekarang. Mungkin karena sekarang banyak betul batang-batang pohon yang bertumbangan dan menutupi jalur pendakian yang lama." Di ketinggian lebih kurang 1.900 meter dpl, kabut semakin tebal dan membuat jarak pandang semakin pendek. Tanpa menyadari bahwa telah berada di tengah-tengah batang pohon besar berlumut yang tumbang. Meski berjalan setapak demi setapak, akhirnya sampai juga di puncak. Hawa semakin dingin karena hujan dan suhu terus turun. Bermalam di puncak Tanggamus yang saat itu sedang hujan angin dan berkabut. Hujan angin Keesokan paginya kabut tebal disertai hujan angin menyambut. Padahal, kami berharap bisa melihat keluasan Tanggamus dari puncak. Kekecewaan pun melanda. Puncak tak terlihat samasekali. Jarak pandang juga pendek. Sambil menunggu hujan reda, segala perlengkapan kami benahi. Kali ini perjalanan turun terasa tidak seberat perjalanan naik. Bahkan, jika saat mendaki kami tidak sempat melihat keindahan hutan lumut, pagi itu dengan jelas kami bebas mengamati hutan lumut. Namun, hujan yang turun semalam membuat jalan yang kami lalui menjadi licin. Setibanya di tempat peristirahatan pertama, kami singgah ke gubuk Mbah Achmadi. Mbah Achmadi ini sudah puluhan tahun tinggal di kawasan itu dan mengusahakan berbagai tanamankebun dan kopi. Rasa capai yang sangat hilang ketika Mbah Achmadi menyuguhkan singkong goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Diiringi semilir angin lereng gunung, kami turun ke Desa Tanggamus. Di rumah Pak Kidi, sekali lagi keramahan khas penduduk desa menyambut kami. Berat rasanya meninggalkan keindahan Gunung Tanggamus yang puncaknya selalu berkabut itu. @meru putra pratama.

GUNUNG RAJABASA_LAMPUNG Gunung Rajabasa 1281mdpl [4,203feet]; terletak di Lampung, Sumatra, Indonesia; Latitude: 5.78°S 5°47'0"S Longitude: 105.625°E 105°37'30"E Tipe gunung strato; masih ada aktifitas Fumarol. Aktifitas erupsinya tidak diketahui, tapi terakhir dilaporkan ada pada bulan april 1863 dan mei 1892. Vegetasi dan hutannya sangat variatif dan cukup 'perawan' karena letaknya hampir berada di tepi pantai. Rute ke Lokasi: Banyak sekali angkutan menuju kesana. Dari Jakarta dapat ditempuh dengan bus yang berangkat dari terminal Kampung Rambutan atau terminal lainnya yang menuju pelabuhan Merak di Banten kurang lebih sekitar 2 jam perjalanan, kemudian dilanjutkan dengan kapal ferry [ yang selama 2 jam menyeberang menuju pelabuhan Bakauheni di Lampung. Selepas Pelabuhan Bakaheuni tinggal naik angkot dari terminal yang ada di depan pelabuhan, angkot berwarna kuning tujuan Kalianda dan turun di daerah Sukamandi, persis berhentidi depan pintu gerbang desa menuju desa Sumur Kumbang. Alternatif lain adalah naik angkutan umum dan turun di depan kantor Pemda Lampung Selatan baru dilanjutkan dengan ojek menuju ds. Sumur Kumbang. Lama perjalanan sekitar 30 menit. Setelah itu langsung disambung dengan ojek tujuan Kampung Sumur Kumbang dengan total waktu tempuh sekitar 15 menit. Perlu diketahui di Kampung Sumur Kumbang ini banyak sekali komunitas penduduk bersuku Sunda. Bila perlu, di kampung ini pula dapat meminta bantuan kepala dusun untuk mencari penunjuk jalan. Info jalur : Total waktu pendakian sekitar 6-8 jam perjalanan. Ada sekitar 6 pos hingga ke Puncak. Di puncak ada jalur turun menuju kawah yang sudah menjadi danau. Cukup banyak tempat buat ngecamp selama jalur pendakian. Bekal air sebaiknya dipersiapkan sebelum naik. Masih banyak sumber air sebelum pos 1, setelah itu, tidak ditemukan sumber air. Tetapi yang harus diperhatikan adalah pacet, karena Rajabasa sendiri terkenal sebagai ‘gudang pacet’. Jalurnya sendiri cukup aman dan jelas mengikuti satu punggungan gunung. (Menurut penduduk setempat, bila ingin turun ke danau, waktu tempuh dari puncak sekitar 0.5 – 1 jam perjalanan) Info lainnya : Danau tersebut menjadi tujuan utama bagi penduduk lokal maupun orang yang khusus datang untuk berziarah. disana ada yang disebut ‘batu cukup’ ; konon sebanyak apapun orang berdiri diatasnya, akan selalu cukup. Kalau beruntung, orang yang datang dapatmenemukan batu kabah. Mengenai ukuran sendiri kurang jelas, ada yang bilang seukuran 1x2 meter. Apakah batu tersebut dapat mengarah ke arah kiblat atau berasal dari Kabah? *masih jadi misteri* Ada satu pantangan/ pamali yang dipercaya oleh penduduk Sumur Kumbang disana, apabila hendak membuat api unggun agar tidak mematahkan ranting dengan tangan, tetapi harus ditebas dengan pisau. Kebanyakan kendaraan umum tidak beroperasi lagi setelah gelap. Pastikan kembali ke kota sebelum gelap. jalur = Setelah pos 1, jalur terus naik dan cukup jelas, namun di beberapa tempat sebelum pos 2, banyak sekali jalur yang on off tertutup rumput setinggi kepala. Orientasi terus keatas dan tidak berpindah punggungan. Sejam kemudian, masih kita temui ladang cengkeh. Beberapa rumpun bambu. Setelah itu, mulai memasuki pintu rimba. Pos 2 sendiri berupa dataran yang cukup buat ngecamp 2 tenda. Masih ada papan tripleks bercat merah yang berisi tulisan yang sama. Jalur jelas. Tapi sepanjang jalur hingga puncak, penuh dengan pacet. Dan benar-benar tertutup rapat oleh vegetasi. Tepat sebelum pos 3 jalur berbelok kekiri, ada satu dataran cukup untuk beristirahat dan cukup 2 tenda untuk ngecamp. Masih banyak pacet, dan nyamuknya cukup ganas. Dari situ jalur naik keatas. Kira2 satu jam kemudian akan kita temui pos 4 yang tepat berada di tengah pepohonan tinggi dan rapat. Banyak tempat buat ngecamp, walau tanah sedikit miring. Setelah melewati pos 4 dan terus berjalan menujupos 5, orientasi terus bergerak ke arah kiri. Kemudian menuruni lembah, untuk kemudian naik kembali hingga pos 5. jurang di sisi kanan dan kiri. Hati-hati, karena jalurnya tipis sekali. Tanah mudah runtuh. Beberapa kali kami harus meloncati portal kayu yang licin. Sepanjang jalur keatas, banyak tanda panah menuju puncak dari aluminium yang dipasang pada batang pohon. Kawah Gunung Rajabasa , Begitu tiba di pos 5. Ada semacam gerbang dari batang kayu yang dipasang beberapa papan nama. Cukup untuk beristirahat sejenak. Jarak ke puncak tidak begitujauh. Dan mulai terbuka sehingga puncak bisa terlihat dari sini. Mungkin sekitar 10-20 meter naik ke atas. Melewati portal, sedikit ke arah kanan, ikuti jalur naik keatas. Hingga, tibalah di puncak. @meru putra pratama.

Jumat, 13 Januari 2012

Krakatau adalah gunung berapi yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra . Gunung berapi ini pernah meletus pada tanggal 26 Agustus 1883 . Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai tanggal 26 Desember 2004 , tsunami ini adalah yang terdahsyat. Suara letusan Gunung Krakatau sampai terdengar di Alice Springs , Australia dan pulau Rodrigues dekat Afrika , 4.653 kilometer . Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali dari bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II . Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer . Matahari bersinar redup sampaisetahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York . Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia , Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska . Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat. Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi . Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut. Gunung Krakatau Purba Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat gunung yang sangat besar di Selat Sunda yang akhirnya meletus dahsyat yang menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau Purba, yang merupakan induk dari Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini disusun dari bebatuan andesitik . Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara lain menyatakan: "Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin danhujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera ". Pakar geologi B.G. Escher dan beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa kejadian alam yang diceritakan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut Gunung Batuwara. Menurut buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi Krakatau Purba ini mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer. Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata , Pulau Panjang dan Pulau Sertung , dalam catatan lain disebut sebagai Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir bertanggung- jawab atas terjadinya abad kegelapan di muka bumi. Penyakit sampar bubonic terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi. Letusan ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba , transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium , berakhirnya peradaban Arabia Selatan , punahnya kota besar Maya , Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun. Munculnya Gunung Krakatau Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Rakata yang terbuat dari batuan basaltik . Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau. Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam . Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan lava meskipun tidak meletus. Setelah masa itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di Krakatau hingga 20 Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda awal bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda. Ledakan kecil ini kemudian disusul dengan letusan-letusan kecil yang puncaknya terjadi pada 26-28 Agustus 1883. Letusan Gunung Krakatau Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, meledaklah gunung itu. Menurut Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National Geoghrapic mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang paling besar, suara paling keras dan peristiwa vulkanik yang paling meluluh-lantakkan dalam sejarah manusia moderen. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 peduduk bumi saat itu. Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. Sedangkan buku The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah. Selain itu, ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencavai 80 km. Benda-benda kerasyang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka , India , Pakistan , Australia dan Selandia Baru . Akibat letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata dimana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter. Gelombang laut naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang berada di pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut. Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak ( Serang ) hingga Cilamaya di Karawang , pantai barat Banten hingga Tanjung layar di Pulai Panaitan ( Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Di Ujungkulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii , pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer. Anak Krakatau Mulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Kakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari kawasan kaldera purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya. Kecepatan pertumbuhan tingginyaselitar 20 inchi per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Catatan lain menyebutkan penambahan tiggi sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitu, maka dalam waktu 25 tahun penambahan tinggi anak rakata mencapai 7.500 inchi atau 500 kaki lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru itu. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapaisekitar 230 meter di atas permukaan laut, sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut. Menurut Simon Winchester, sekalipun apa yang terjadi dalam kehidupan Krakatau yang dulu sangat menakutkan, realita-realita geologi, seismik serta tektonik di Jawa dan Sumatera yanganeh akan memastikan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu ketika akan terjadi kembali. Tak ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus. Beberapa ahli geologi memprediksi letusan in bakal terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 juga tidak bisa diabaikan. Menurut Profesor Ueda Nakayama salah seorang ahli gunung api berkebangsaan Jepang , Anak Krakatau masih relatif aman meski aktif dan sering ada letusan kecil, hanya ada saat-saat tertentu para turis dilarang mendekati kawasan ini karena bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung api ini. Para pakar lain menyatakan tidak ada teori yang masuk akal tentang Anak Krakatau yang akan kembali meletus. Kalaupun ada minimal 3 abad lagi atau sesudah 2325 M. Namun yang jelas, angka korban yang ditimbulkan lebih dahsyat dari letusan sebelumnya.

, hari ini saat senja, kutatap ke ufuk barat, ketika mentari meninggalkan jejak. Kupandangi dengan terpana, merasakan selintas momenkeindahan senja. Puas dan hadirkan kebahagiaan dalam langkah. Kala senja yang indah, sejenak aku meluangkan waktu untuk merenungi kesadaran dan nurani. Betapa indahnya hidup ini, bila kesadaran dan nurani selalu bisamenjadi penuntun hidup yang penuh dengan kegelapan. @meru putra pratama

GUNUNG RORAIMA,GUNUNG DATAR DI DUNIA

Gunung Roraima mulai terkenal pada tahun 1912 ketika Sir Arthur Conan Doyle-menulis novelfiksi yang berjudul The Lost World. dia melakuan pendakian ke gunung Roraima-untuk melakukan eksplorasi dalam riset pencarian spesies tanaman prasejarah dan dinosaurus yangdiyakini hidup terisolasi dan tidak berubah selama jutaan tahun di puncak gunung.
Conan-Doyle diilhami oleh ahli botani Inggris Everard Im Thurn yang pada 18 Desember 1884 dengan Harry Perkins, mereka merupakan orang pertama yang mencapai puncak Gunung Roraima. Im Thurn dan Perkins bukan orang Eropa pertama yang melihat Gunung Roraima, orang pertama eropa yang melihatnya adalah seorang penjelajah Jerman Robert Schomburgk yang seorang ilmuwan yang penjelajah daerah Britains Royal Society pada 1838.
menyampaikan ceramah dalam ekspedisi nya yang ketika itu dihadiri Conan-Doyle. yang kemudian mengilhaminya untuk melakukan penjelajahan ke gunung roraima
Im Thurn dan Perkins mendaki Gunung Roraima dari tenggara dengan apa yang sekarang disebut Im Thurn rute, satu-satunya cara termudah untuk mencapai puncak. dalam ekspedisiNya Im Thurn harus berjuang menempuh jarak ratusan kilometer juga melewati sungai dan hutan-hutan liar beserta binatang buas yang berbahaya.
Setelah Im Thurn dan Perkins, banyak ekspedisi ilmiah Inggris yang datang untuk mengumpulkan dan melakukan penelitian mengenai flora dan fauna aneh yang ada di gunung roraima dan menghasilkan banyak spesies baru yang ada di sana. dan gunung ini sudah ditetapkan dalam daftar situs warisan dunia.